Minggu, 26 April 2015

Teknologi Pendidikan

I.   PENDAHULUAN

Latar Belakang
Penggunaan alat batu sangat membantu aktivitas proses belajar mengajar di kelas terutama peningkatan prestasi belajar siswa/mahasiswa. Kadang-kadang dosen/gru ingin memilih beban seminimal mungkin dalam pelaksanaan tugas mengajr, ini terbukti, penggunaan metode ceramah monoton paling popular dikalangan dosen/guru. Keterbatasan media teknologi pendidikan di satu pihak dan lemahnya kemampuan dosen/guru menciptakan media tersebut di sisi lain memnuat penerapan metode ceramah makin menjamur. Kondisi ini jauh dari menguntungkan. Terbatasnya alat-alat teknologi pendidikan yang dipakai di kelas diduga merupakan salh satu sebab lemahnya mutu studi mahasiswa atau pelajar atau masyarakat pada umumnya.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat untuk selanjutnya berpengaruh pada pola komunikasi di masyarakat. Tuntutan masyarakat yang makin besar terhadap pendidikan serta kemjuan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat pendidikan tidak mungkin lagi dikelola hanya dengan melalui pola tradisional, di samping cara ini tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntuta masyarakat.
Revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan masyarakat, pemahaman car belajar anak, kemajuan media komunikasi dan lain sebagainya member arti tersendiri bagi kegiatan pendidikan dan tuntutan ini pulalah yang membuat kebijaksanaan untuk memanfaat kan media teknologi dan pendekatan teknologis dalan pengelolaan pendidikan.
Media teknologi pendidikan dianggap dapat member arti yang lebih besar dalam pencapaian tujuan pendidikan yang efektif dan efisien akan diwujudkan. Permasalahannya sekarang, grur adalah guru dan teknologi pendidikan adalah teknologi pendidikan, yang pada tulisan ini dikatakan sebagai sumber pelengkap.


II.   PEMBAHASAN


1.     Teknologi pendidikan
Teknologi pendidikan bukan semacam audiovisual aids atau alat-alat semacam computer, radio, kaset, dan sebagainya. Teknologi pendidikan menyangkut berbagai hal perencanaan, implementasi, dan reinovasi belajar, yaitu perencanaan desain kurikulum untuk alat belajar, perencanaan evaluasi kurikulum sebagai alat untuk menilai tujuan dan program pengajaran,perencanaan analisis pengalaman-pengalaman,  implementasi program dan reinovasi belajar dalam situasi yang nyata. Karena teknologi pendidikan menyangkut segi teoritis dan praktis, maka teknologi pendidikan bersifat rasional, mempergunakan problem solving approach terhadap pendidikan, skeptic dan sistematis dalam cara berfikir tentang belajar-mengajar.
Istilah teknologi pendidikan (educational technology)  atau teknologi pengajaran (instructional technology) secara umum dapat diartikan sebagai peranan teknologi, khususnya teknologi komunikasi, untuk kegiatan pendidikan atau pengajaran. Yang paling penting disini adalah proses integrasi antara manusia, ide, organisasi dan peralatan. Berdasarkan asumsi terakhir ini, teknologi pendidikan dapat pula diartikan sebagai pendekatan yang logis, sistematis dan ilmiah dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran.
Dengan demikian, secara umum teknologi pendidikan diartikan sebagai media yang lahir dari evolusi teknologi komunikasi yang dapat digunakan untuk tujuan-tujuan pengajaran di samping guru, bukuu dan papan tulis.
Pemanfaatan teknologi komunikasi untuk kegiatan pendidikan, teknologi pendidikan serta  media pendidikan perlu dalam rangka kegiatan belajar mengajar. Karena dengan pendekatan ilmiah, sistematis dan rasional, sebagaimana dituntut oleh teknologi pendidikan ini pulalah, tujuan pendidikan yang efektif dan efisien akan tercapai. Karenanya, dalam rangka penyelenggaraan pendidikan yang efektif dan efiesien dituntut kajian (analysis) yang sistematis, ilmiah dan rasional seperti yang dikehendaki oleh teknolpgi pendidikan (educational technology) dan media pendidikan (educational media ) merupakan kebutuhan mendesak, lebih-lebih di masa datang.
Upaya yang dilakukan dalam rangka memenuhi tuntutan itu adalah dengan jalan memanfaatkan teknologi pendidiakan atau mengelola pendidikan, khususnya proses beljar melalui pendekatan teknologis. Teknologi pendidikan mempunyai karakteristik tertentu yang sangat relevan bagi kepentingan pendidikan. Teknologi pendidikan memungkinkan adanya penyebaran informasi secara luas, merata, cepat, seragam dan integrasi, sehingga dengan demikian pesan dapat disampaikan sesuai dengan isi yang dimaksud, teknologi pendidikan dapat menyajikan ,ateri secara logis, ilmiah dan sistematis serta mampu melengkapi, menunjang memperjelas konsep-konsep, prinsip-prinsip atau proposisi ,ateri pelajaran, teknologi pendidikan menjadi partner guru falam rangka mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif, efisien dan produktif sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan anak didik, teknologi pendidikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar, dapat menyajikan materi secara lebih menarik, lebih-lebih jika disertai dengan kemampuan memenfaatkannya.

2.    Media pendidikan
Media pendidikan merupalkan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik. Teknologi pendidikan sebagai bagian integral dari kegiatan pendidikan memerlukan upaya manusia ( guru dan tenaga kependidikan atau sekelompok professional lainnya ) yang bersifat menyeluruh.
Upaya pendidikan diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang bermutu secara kuantufikatif, ini bukanlah aktivitas sederhana. Salh satu upaya yang mungkin dilakukan adalah dengan jalan memanfaatkan teknologi pendidikan dalam rangka efektivitas dan efisiensi manajemen pendidikan. Commission on Instructional Technology (1972) mengidentifikasi beberapa keuntungan pemanfaatan teknologi pendidikan. Adapun beberapa keuntungan dimaksud adalah seperti tersebut dibawah ini :
1.     Media teknologi pendidikan membuat pendidikan lebih produktif.
2.    Media teknologi pendidikan menunjang pengajaran individual, atau dengan kata lain memungkinkan penerapan individualisasi dalam kegiatan pengajaran. Teknologi pendidikan memungkinkan siswa untuk dapat menemukan arah diri menurut kemampuan yang ia miliki.
3.    Media teknologi pendidikan membuat kegiatan pengajaran lebih ilmiah (scientific). Teknologi pendidikan memungkinkan siswa untuk menciptakan rangkaian kerja yang sesuai dengan tujuan belajar mengajar, member kemudahan pada anak untuk mengetahui apa yang sebenarnya harus dipahami.
4.    Media teknologi dapat membuat pengajaran lebih powerfull. Kontak komunikasi antar individu yang ditunjang oleh teknologi dapat member nilai tambah (added values) dan kemampuan komunikasi tertentu.
5.    Media teknologi pendidilkan dapat membuat kegiatan belajar mengajar lebih immediate. Tekmologi pendidikan dilukiskan sebagai jembatan antara dunia luar dengan dunia dalam sekolah. Melalui televise, film dan media lainnya, kurikulum dapat digarap secara dinamis.
6.    Media teknologi pendidikan dapat membuat percepatan pendidikan lebih equal. Equal acces untuk memperkaya kegiatan pendidikan yang tidak mungkin ada tanpa sumber-sumber teknologi.
Teknologi pendidiakn memungkinkan kegiatan beajar mengajar lebih produktif, ilmiah, di individualisasikan, powerful, immediacy, sejlanan dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebenarnya guru dapat melakukan pendekatan-pendekatan teknologis dengan tidak memanfaatkan media teknologi secara langsung. Sementara orang berpendapat bahwa pengajaran dalam bentuk apapun, seperti ceramah, diskusi, seminar, karyawisata, dan sebgainya termasuk teknologi pendidikan. Menurut S, Nasution (1982)  tergantung pada ciri-ciri teknologi pendidikan sebagai berikut:
1.     Merumuskan tujuan dengan teliti dan spesifik dalam bentuk kelakuan yang diamati, sehingga dapat di ukur keberhasilan tercapainya tujuan itu.
2.    Meneliti pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dimiliki anak didik (dahulu lazim disebut bahan apersepsi) sebagai dasar pelajaran baru sehingga diketahui kemajuan yang dicapai berkat proses mengajar belajar.
3.    Menganalisis bahan pelajaran yang akan disajikan dalam bagian-bagian yang dapat dipelajari secara mudah.
4.    Berdasarkan analisis bahan pelajaran menentukan:
a.    urutan mempelajari bahan itu agar tercapai hasil belajar yang optimal.
b.    Strategi yang paling tepat untuk menyampaikan atau menyajikan bahan itu.
5.    Menguji coba program itu untuk menentukan kelemahannya.
6.    Mengadakan perubahan, perbaikan atau revisi untuk meningkatkan mutu program itu.

3.    Ciri-ciri umum sistem teknologi kelas
Seperti dalam desin pengembangan kurikulum, sistem teknologi pendidikan juga mengenal komponen-komponen tujuan metode, organisasi (isindan bahan pelajaran), dan evaluasi yang dipahami oleh para pengajar. Berikut ini diuraikan komponen-komponen yang sekaligus merupakan cirri umum teknologi pendidikan dikelas :
1.     Tujuan, tujuan lebih menitik beratlan aspek-aspek behavioral atau empiris. Tujuan hasil-hasil belajar atau proses dalam bentuk-bentuk yang dapat diamatoi atau diukur. Secara tipikal, tujuan harus rinci, spesifik, dan berorientasi pada keahlian (skill oriented). Tiap Negara tentu mempunyai cirri khas dan pertimbangan tersendiri dalam merinci tujuan dan orientasinya.
2.    Metode, belajar dipandang sebagai suatu proses mereaksi terhadap stimulus-stimulus memperhatikan isyarat lebih dari sekedar seperti suatu proses transaksional, yang mungkin siswa mempengaruhi stimulus itu. Siswa diarahklan untuk memperhatikan hal-hal yang menarik, yang bermakna, dan diperkuat (reinforced) misalnya dengan member pujian bila melakukan perbuatan yang benar. Tujuan pengajaran lebih ditentukan sebelumnya ketimbang dibuat.
3.    Organisasi, ahli ilmu kurikulum teknologi biasanya lebih akrab dengan disiplin mata pelajaran seperti matematika, IPA , seni membaca dan bahasa serta bidang-bidang teknik terapan. Biasanya hanya beberapa aspek dari bidang-bidang ini diseleksi untuk perlakuan pada setiap kali bahasan. Contohnya, decimal dalam matematika diberikan dalam suatu program yang terpisah, bukan sebagai matematika pada umumnya. Tujuan-tujuan tersebut merupakan suatu basis bagi prngorganisasian pengajaran. Tujuan-tujuan itu dianalisis dari sudut syarat-syarat mutlak, setiap syarat mutlak kemudian berturut-turut dinyatakan sebagai suatu tujuan yang akan dicapai, dan tujuan yang akan dicapai ini disusun dalam suatu susunan menurut hierarkis.
4.    Evalusi, biasanya pendekatan teknologis sangat efektif untuk tugas-tugas konvensional. Murid mendapat lebih banyak teknik ini ketimbang cara lain. Pendekatan terprogram yang disusun secara padat yang meliputi umpan balik yang terus menerus dan segera kepada siswa, dikombinasikan dengan hubungan tutorial, merangsang individu unyuk maju, dan pemrograman yang agak diindividualisasikan secara positif dihubungkan dengan percepatan pencapaian siswa. Akan tetapi, di samping itu harus diingat bahwa evaluasi yang positif seperti yang bergantung pada pencapaian yang ditentukan, baik melalui skor dalam tes-tes baku maupun melalui tes-tes program spesifik yang mengajarkan aspek-aspek mata pelajaran yang professional.
Mengajar dan belajar adalah peristiwa rumit yang sampai saat ini belum dipahami secar menyeluruh. Tak ada teori mengajar yang paling cocok untuk semua jenis belajar, apalagi jika dikaitkan dengan rumusan tujuan, pemilihan bahan, proses belajar mengajar dan evaluasi. Tujuan pendidikan yang ada pada akhirnya diarahkan untuk pencapaian tujuan pendidikan nasional memerlukan kerangka pemikiran, sebab kegagalan pendidikan dalam arti mikro akan membuat kegiatan penyampaian bahahn pelajaran harus dipandang sebagai upaya pemecahan masalah secara ilmiah.
Media teknologi pendidikan mendorong dan diharapkan memberi arah kepada guru untuk melihat perbuatan mengajar sebagai upaya memecahkan masalah secara ilmiah. Materi pelajaran disajikan dalam bentuk pemecahan masalah, melalui langkah-langkah ilmiah, logis dan sistematis.














III.      PENUTUP

Kesimpulan
Dengan demikian, secara umum teknologi pendidikan diartikan sebagai media yang lahir dari evolusi teknologi komunikasi yang dapat digunakan untuk tujuan-tujuan pengajaran di samping guru, bukuu dan papan tulis.
Media pendidikan merupalkan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik. Teknologi pendidikan sebagai bagian integral dari kegiatan pendidikan memerlukan upaya manusia ( guru dan tenaga kependidikan atau sekelompok professional lainnya ) yang bersifat menyeluruh.
Seperti dalam desin pengembangan kurikulum, sistem teknologi pendidikan juga mengenal komponen-komponen tujuan metode, organisasi (isindan bahan pelajaran), dan evaluasi yang dipahami oleh para pengajar. Berikut ini diuraikan komponen-komponen yang sekaligus merupakan cirri umum teknologi pendidikan dikelas.
Media teknologi pendidikan mendorong dan diharapkan memberi arah kepada guru untuk melihat perbuatan mengajar sebagai upaya memecahkan masalah secara ilmiah. Materi pelajaran disajikan dalam bentuk pemecahan masalah, melalui langkah-langkah ilmiah, logis dan sistematis.



DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarman, Media Komunikasi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara, 1995
Wijaya, Cece, Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran, Bandung ; Remaja Rosdakarya, 19992





Manajemen Kelas

I.       Pendahuluan
A.  Pentingnya Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas diperlukan karena dari hari ke hari bahkan dari waktu ke waktu tingkah laku dan perbuatan siswa selalu berubah. Hari ini siswa dapat belajar dengan baik dan tenang, tetapi besok belum tentu. Kemarin terjadi persaingan yang sehat dalam kelompok, sebaliknya dimasa mendatang boleh jadi persaingan itu kurang sehat. Kelas selalu dinamis dalam bentuk perilaku, perbuatan, sikap, mental, dan emosional siswa.
B.  Pengertian Manajemen Kelas
“Manajemen  kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran” (Mulyasa 2006:91). Nawawi (Djamarah 2006:177) ”Manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegitan-kegiatan yang kreatif dan terarah ”. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan manajemen kelas adalah usaha sadar untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, serta melaksanakan pengawasan atau supervise terhadap program dan kegiatan yang ada di kelas sehingga proses belajar mengajar berlangsung secara sistematis, efektif dan efisien, sehingga potensi peserta didik mampu dioptimalkan.
C.  Tujuan ,Prinsip dan Pendekatan  Manajemen Kelas
Tujuan manajemen kelas
Ketercapaian tujuan manajemen kelas dapat dideteksi atau dilihat dari:
1.     Anak-anak memberikan respon yang setimpal terhadap perlakukan yang sopan dan penuh perhatian dari orang dewasa. Artinya bahwa perilaku yang diperhatikan peserta didik seberapa tinggi, seberapa baik dan seberapa besar tehadap pola perilaku yang diperlihatkan guru kepadanya di dalam kelas.
2.    Mereka akan bekerja dengan rajin dan penuh konsentrasi dalam melakukan tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuannya. Perilaku yang diperlihatkan guru kepada kinerja dan pola perilaku orang dewasa dalam nilai dan normal balikannya akan berupa peniruan dan percontohan oleh peserta didik baik atau buruknya amat bergantung kepada bagaimana perilaku itu direnakan.
Prinsip Manajemen Kelas
Djamarah (2006:185) menyebutkan “Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas dapat dipergunakan prinsip-prinsip pengelolaan kelas sebagai berikut.
1).  Hangat dan Antusias.
 2).  Tantangan.
3).  Bervariasi.
4). Keluwesan..
5).  Penekanan pada Hal-Hal yang Positif.
 6). Penanaman Disiplin Diri.
1). Pendekatan Kekuasaan. Pendekatan kekuasaan dalam manajemen kelas dapat dipahami sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik di dalam kelas.
2). Pendekatan Ancaman. Pendekatan ancaman di dalam kelas dapat diimplementasikan melalui papan larangan, sindiran saat belajar, dan paksaaan kepada peserta didik yang membantah, yang semuanya ditujukan agar peserta didik mengikuti apa yang diinstruksikan oleh guru.
3). Pendekatan Kebebasan. Pendekatan kebebasan dalam manajemen kelas dipahami sebagai suatu proses untuk membantu peserta didik agar merasa memiiiki kebebasan untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang ia pahami dan ia inginkan, tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat.
4). Pendekatan Resep. Pendekatan ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apay yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di dalam kelas
5). Pendekatan Pengajaran. Pendekatan ini didasrakan atas suatu anggapan bahwa pengajaran yang baik akan mampu mencegah munculnya salah yang disebabkan oleh peserta didik di dalam kelas.
6). Pendekatan Perubahan Tingkah Laku. Pendekatan ini diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku peserta didik di dalm kelas, baik itu tingkah laku yang positif maupun negative.
7). Pendekatan Sosio-Emosional. Pendekatan ini akan tercapai secara optimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalm kelas.
8). Pendekatan Kerja Kelompok. Pendekatan ini memandang perna guru sebagai pencipta terbentuknya kelompok belajar yang ada di kelas.
9). Pendekatan Elektis atau Pluralistik. Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreatifitas, dan inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya.
10). Pendekatan Teknologi dan Informasi. Pendekatan Teknologi dan Informasi dalam manajemen kelas berasumsi bahwa pembelajaran tidak cukup hanya dengan kegiatan ceramah dan transfer pengetahuan semata, bahwa pembelajaran yang modern perlu memanfaatkan penggunaan teknologi dan informasi dalam kelas.

II.     Kelas yang Kondusif  bagi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
A.      Pengertian Kelas dan KBM
Kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dalam kelas tersebut, guru berperan sebagai manajer utama daam merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, dan melaksanakan pengawasan atau supervissi kelas. Sedangkan kelas dalam perspektif pendidikan dapat dipahami sebagai sekelompok peserta didik yang berada pada waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama, serta bersumber dari guru yang sama. Kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan guru dan murid yang harus mempunyai pola tertentu, seperti dikemukakan J.J Hasibuan yang dikutip oleh Satyaswari (1998: 17) berikut ini : Strategi belajar mengajar adalah pola umum perbuatan guru dan murid didalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar. Pengertian strategi dalam hal ini menunjuk pada karakteristik abstrak dari rentetan perbuatan guru murid di dalam  peristiwa belajar mengajar. Sedangkan rentetan perbuatan guru murid dalam  suatu peristiwa belajar mengajar aktual tertentu, dinamakan prosedur intruksional 
B.      Latar Belakang Siswa dan Pengaruhnya terhadap Kondisi Kelas
“Secara umum faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor intern dan faktor ekstern siswa.” (Djamarah 2006:184). Faktor intern siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku. Kepribadian siswa denga ciri-ciri khasnya masing-masing menyebabkan siswa berbeda dari siswa lainnya sacara individual. Perbedaan sacara individual ini dilihat dari segi aspek yaitu perbedaan biologis intelektual dan psikologis. Faktor ekstern siswa terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa, jumlah siswa, dan sebagainya. Masalah jumlah siswa di kelas akan mewarnai dinamika kelas. Semakin banyak jumlah siswa di kelas, misalnya dua puluh orang ke atas akan cenderung lebih mudah terjadi konflik. Sebaliknya semakin sedikit jumlah siswa di kelas cenderung lebih kecil terjadi konflik.
C.      Hubungan Harmonis Guru-Siswa dalam KBM
Mengajar pada dasarnya merupakan proses komunikasi antara guru dengan siswa yang dilakukan secara sadar, sistimatis dan terencana. Mengajar dilakukan secara sadar artinya bahwa proses komunikasi itu dilakukan dengan sengaja yaitu dengan melakukan aktivitas :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam proses mengajar
2. Menyiapkan bahan pelajaran yang disampaikan sesuai dengan tuntutan kurikulum
3. Memilih metode yang tepat dalam menyampaikan bahan pelajaran
4. Memilih media pengajaran yang sesuai dengan bahan pelajaran yang disampaikan
5. Menyusun evaluasi untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam belajar
D.      Iklim Kelas Kondusif bagi KBM
Adapun strategi yang dapat dilakukan oleh guru untuk menciptakan kondisi belajar yang kondusif adalah :
1. Memberikan pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun yang cepat dalam melakukan tugas pembelajaran.
2. Memberikan pembelajaran remedial bagi para peserta didik yang kurang berprestasi, atau berprestasi rendah.
3. Mengembangkan organisasi kelas yang efektif, menarik, nyaman, dan aman bagi perkembangan potensi seluruh peserta didik, serta pengelolaan kelas yang tepat, efektif dan efisien
4. Menciptakan kerja sama saling menghargai, baik antar peserta didik maupun antara peserta didik dengan guru dan pengelola pembelajaran lain.
5. Melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan belajar dan pembelajaran. Dalam hal ini guru harus mampu memposisikan diri sebagai pembimbing dan manusia sumber.
6. Mengembangkan proses pembelajaran sebagai tanggung jawab bersama antara peserta didik dan guru, sehingga guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan sebagai sumber belajar.
7. Mengembangkan sistem evaluasi belajar dan pembelajaran yang menekankan pada evaluasi diri ( self evaluation ). Dalam hal ini guru sebagai fasilitator harus mampu membantu peserta didik untuk menilai bagaimana mereka memperoleh kemajuan dalam proses belajar yang dilaluinya.
III.   Strategi Guru  dalam Penciptaan Manajemen Kelas Efektif

Strategi menciptakan suasana kelas yang efektif:
1. Membentuk dan menjaga relasi yang produktif dengan setiap siswa:
- Menyiapkan diri dengan baik untuk performa di kelas
-Mendemonstrasikan bahwa guru senang mengajar
- Mengkomunikasikan ekspektasi-ekspektasi yang tinggi tetapi realistis untuk performa siswa
- Melibatkan siswa dalam membuat keputusan dan mengevaluasi kerja siswa
2. Membangun atmosfer yang serius tetapi tidak menakutkan
3. Mengkomunikasikan pesan-pesan yang tepat mengenai pembelajaran
4. Memberi siswa perasaan kontrol
5. Meningkatkan rasa komunitas dan rasa memiliki






Minggu, 05 April 2015

The Media for Education



Media pembelajaran, ya, kita sering sekali mendengar kalimat tersebut. Namun kebanyakan dari kita masih belum mengerti apa itu media bagi system pembelajaran untuk mengajar. Padahal kegunaan media itu  sangat membantu seorang pengajar dalam menyampaikan pembelajaran. Hal ini juga akan memudahkan bagi siswa untuk menyerap pelajaran yang disampaikan oleh guru. Apalagi dengan menggunakan media-media yang menarik seperti video atau bahakan film yang dapat menjadi perantara kita dalam mengajar. Selain untuk memudahkan pembelajaran  bagi guru dan siswa media juga menunjukkan kualitas bagi sebuah sekolah apakah sekolah itu sudah berkembang atau belum.
Dengan menggunakan media juga dapat meningkatkan efisiensi proses pembelajaran, hal itu dapat mempercepat proses pembelajaran itu sendiri. Media pembelajaran juga mempunyai  fungsi pokok media pembelajaran dalam proses belajar mengajar PAI menurut Nana Sudjana (1998: 99-100).
1.Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
2. Media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh seorang guru.
3. Dalam pemakaian media pengajaran harus melihat tujuan dan bahan pelajaran.
4. Media pengajaran bukan sebagai alat hiburan, akan tetapi alat ini dijadikan untuk melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih menarik perhatian peserta didik.
5. Di utamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar serta dapat membantu siswa dalam menangkap pengertian yang disamapaikan oleh guru.
6. Penggunaan alat ini diutamakan untuk meningkatkan mutu belajar mengajar.
Bagi guru PAI media juga sangat penting, karena dengan menggunakan media akan membantu seorang guru PAI untuk menghilangkan kesan monoton pada pelajaran PAI. Yang dianggap bagi para peserta didik bahwa pelajaran PAI itu merupakan suatu pelajaran yang tidak menarik. Dengan menggunakan gambar-gambar atau video tentang pelajaran PAI itu akan mempermudah para siswa untuk menyerap pengetahuan yang telah kita sampaikan kepada peserta didik. Pengetahuan tentang media juga sangat penting bagi siswa, karena tanpa pengetahuan tentang media maka akan percuma, maka dari iu, media sangat penting bagi guru maupun siswa didik pada zaman sekarang ini.